Boxoffice.co.id - Baru-baru ini saya menonton film korea berjudul No Other Choice garapan sutradara Park Chan-Wook yang juga dikenal dengan karya-karyanya seperti Decision to Leave dan The Handmaiden.
Film ini berkisah tentang karakter Yoo Man-Soo yang diperankan oleh Lee Byung-Hun, menikah dengan Mi-Ri yang diperankan oleh aktris Son Ye-Jin dan mereka memiliki dua anak. Mereka memiliki rumah yang mereka beli dengan susah payah. Yoo Man-Soo telah bekerja di perusahaan kertas selama 25 tahun. Ia merasa nyaman dan puas dengan hidupnya, tetapi tiba-tiba ia dipecat dari pekerjaannya. Ia berjuang mencari pekerjaan baru untuk melindungi keluarga dan rumahnya.
No Other Chise diangkat dari novel berjudul The Ax karya Donald E. Westlake yang diterbitkan pada tahun 1997 oleh Mysterious Press. The Ax merujuk pada istilah di Korea Selatan untuk menggambarkan keadaan orang yang di PHK seolah-olah memotong kehidupan karyawan terdampak. Proses syuting dimulai 17 Agustus 2024 dan selesai 15 Januari 2025.
Nama-nama besar turut serta meramaikan film ini diantaranya Park Hee-Soon, Lee Sung-Min, Yum Hye-Ran, Cha Seung-Won dan Yoo Yeon-Seok yang tampil sebagai cameo.
Premisnya memang sederhana tentang seorang kepala keluarga yang mencari pekerjaan lagi setelah kena PHK, namun cara dan prosesnya membuat film ini jadi menarik.
Yoo Man Soo harus melakukan tindakan kriminal untuk mempersar peluangnya diterima kerja setelah tahu bahwa untuk posisi manager di pabrik kertas yang ia lamar ada lima kandidat dan tiga diantaranya memiliki kualitas yang lebih baik dengan peluang diterima lebih tinggi.
Tentu saja kesan yang diterima penonton cara Yoo Man Soo sadis, namun bisa jadi sutradara Park Chan-Wook ingin memberi gambaran kerasnya persaingan di dunia kerja.
Fenomena hari ini untuk satu lowongan pekerjaan seorang kandidat harus bersaing tidak hanya dengan puluhan calon lain, bisa jadi ratusan bahkan ribuan. Belum lagi isu tentang batasan usia, mencari kerja di usia yang tak lagi muda apalagi pernah di PHK adalah hal yang sulit.
Keresan tentang peran teknologi, mesin dan Ai dalam sebuah industri juga diangkat. Atas dasar efisiensi mesin-mesin ditempatkan di pabrik dengan konsekuensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia yang ujungnya berimbas pada pengurangan karyawan.
Secara keseluruhan film No Other Choice menarik dan rekomended untuk ditonton, namun jika dibandingkan dengan dua karya Park Chan-Wook sebelumnya yaitu Decision to Leave dan The Handmaiden, jujur No Other Choise masih terasa kurang nendang.
Oke demikian tadi sobat Campusnesia, postingan kita kali ini tentang Review Film No Other Choice, Gambaran Sadisnya Persaingan Dunia Kerja, semoga bermanfaat sampai jumpa.
boxoffice.co.id - Sebuah film korea baru tayang karya sutradara Park Chan-Wook yang kita kenal dengan masterpiecenya film The Handmaiden judulnya Decision to Leave.
"Keputusan untuk Meninggalkan" dipilih untuk bagian "Kompetisi" di Festival Film Cannes 2022 (17-28 Mei 2022). Pembuatan film berlangsung dari 19 Oktober 2020 hingga 12 Maret 2021.
Decision to Leave adalah sebuah film misteri romantis Korea Selatan tahun 2022 yang diproduksi, ditulis bersama, dan disutradarai oleh Park Chan-wook.
Film ini dibintangi oleh Tang Wei dan Park Hae-il. Pada April 2022, film tersebut terpilih untuk bersaing memperebutkan Palme d'Or di Festival Film Cannes 2022, di mana Park Chan-wook memenangkan Sutradara Terbaik. Film ini dirilis secara teatrikal pada 29 Juni 2022 di Korea Selatan.
Keputusan untuk Keluar dipilih untuk bersaing memperebutkan Palme d'Or di Festival Film Cannes 2022 yang akan diadakan dari 17 hingga 28 Mei 2022. Film ini diputar untuk pertama kalinya di Lumière Grand Theatre pada 23 Mei 2022 dan kemudian dirilis secara teatrikal di Korea Selatan pada 29 Juni 2022.
Pada April 2022, layanan streaming MUBI memperoleh hak untuk merilis film tersebut di Amerika Utara, Inggris Raya dan Irlandia, India, dan Turki. Ini akan dirilis secara teatrikal di AS dan Inggris pada 14 Oktober 2022. Menurut CJ E&M, film tersebut telah terjual ke 192 negara menjelang pemutaran perdana dalam kompetisi di Festival Film Cannes ke-75.
Film ini dirilis pada 29 Juni 2022 di 1.374 layar. Film Ini dibuka di tempat pertama di box office Korea dengan 114.592 penerimaan. Pada 13 Juli, setelah dua minggu dirilis, film tersebut melampaui 1 juta penerimaan kumulatif.
Pada 19 Juli 2022, film ini berada di posisi ke-4 di antara semua film Korea yang dirilis pada tahun 2022 dengan pendapatan kotor US$10,338.832 dan 1.320.431.
Sinopsis Film Korea Decision to Leave
Hae-Joon (Park Hae-Il) bekerja sebagai detektif. Dia sopan kepada orang lain, tetapi bersemangat ketika menyelidiki kasus.
Dia memulai penyelidikan atas kasus kematian tidak wajar yang terjadi di gunung. Saat menyelidiki kasus tersebut, Hae-Joon bertemu Seo-Rae (Tang Wei). Dia adalah mantan istri almarhum. Hae-Joon curiga padanya, tapi dia juga tertarik padanya.
Seorang detektif jatuh cinta pada seorang janda misterius setelah dia menjadi tersangka utama dalam penyelidikan pembunuhan terbarunya.
Pemeran Film Korea Decision to Leave
Tang Wei sebagai Seo-rae
Park Hae-il sebagai Hae-jun
Lee Jung-hyun sebagai Jung-an
Go Kyung-pyo sebagai Soo-wan
Park Yong-woo sebagai Ho-shin
Jung Yi-seo sebagai Yoo Mi-ji
Penampilan khusus
Kim Shin-young sebagai Yeon-su
Park Jeong-min sebagai San-oh
Seo Hyun-woo sebagai Sa Cheol-seong "Slappy"
Teo Yoo sebagai Sutradara Lee
Pergi Min-si
Lee Hak-joo sebagai Lee Ji-gu
Yoo Seung-mok sebagai Ki Do-soo
Jeong Ha-dam sebagai Oh Ga-in
Choi Dae-hoon sebagai dokter klinik tidur
Poster Film Korea Decision to Leave
Trailer Film Korea Decision to Leave
Review Film Korea Decision to Leave
Plotnya sederhana tentang kasus pembunuhan danhubungan terlarang, namun cara sutradaranya bercerita dalam membangun karakternya satu kata mindblowing.
Park Chan-Wook sangat memperhatikan detail, presisi dan tidak biasa. Penonton diajak mendalami setiap karakter dari adegan-adegan kecil yang terkesan tidak penting, Perlahan-secara perlahan ditebar sehingga masuk ke alam bawah sadar.
Film Decision To Leave mampu berhasil membangun emosi perpaduan dari Seo-Rae yang kurang fasih bahasa Korea, Hae-Jun yang insomnia, hingga istri Hae-Jun yang berulang kali membahas statistik.
Rekomended untuk sobat yang suka film pelan dan tak terburu-buru, jaga antusias agar tak mengantuk selama menonton.
Demikian tadi sobat koretainment, postingan kita kali ini tentang Alur Cerita dan Review Film Korea Decision to Leave. Semoga bermanfaat sampai jumpa.
boxoffice.co.id- Setelah tampil apik dalam drama My Mister, penyanyi IU tahun 2022 ini membintangi sebuah film berjudul Broker.
Broker dalam bahasa Korea: 브로커 adalah film drama Korea Selatan yang disutradarai oleh Hirokazu Kore-eda dan dibintangi oleh Song Kang-ho, Bae Doona, Gang Dong-won, dan Lee Ji-eun.
Film ini berkisah tentang karakter yang terkait dengan kotak bayi, yang memungkinkan bayi ditempatkan secara anonim untuk dirawat oleh orang lain.
Film ini dijadwalakan akan dirilis pada tanggal 8 Juni 2022. Broker dipilih untuk berkompetisi dalam Palme d'Or pada Festival Film Cannes 2022. Disebut-sebut film korea selatan terbaik setelah Parasite.
Sinopsis Film Broker
Sang-hyeon diperankan oleh Song Kang-ho adalah pemilik binatu dan sukarelawan di gereja terdekat, tempat temannya Dong-soo diperankan oleh Gang Dong-won bekerja.
Keduanya menjalankan bisnis ilegal bersama: Sang-hyeon sesekali mencuri bayi dari kotak bayi gereja dengan bantuan Dong-soo, yang menghapus rekaman CCTV gereja yang menunjukkan bayi ditinggalkan di sana, dan mereka menjualnya di pasar gelap adopsi. .
Tetapi ketika seorang ibu muda, So-young (IU), kembali setelah meninggalkan bayinya, dia menemukan mereka dan memutuskan untuk pergi bersama mereka dalam perjalanan untuk mewawancarai calon orang tua bayi.
Sementara itu, dua detektif, Soo-jin (Bae Doona) dan Detektif Lee (Lee Joo-young), sedang mengejar mereka.
seorang ibu yang memutuskan untuk meninggalkan bayinya di kotak bayi.
Lee Joo-young sebagai Detektif Lee,
rekan Soojin yang juga berpartisipasi dalam penyelidikan.
Park Ji-yong sebagai Woo-sung, bayi So-young
Im Seung-soo sebagai Hae-jin,
seorang anak di kamar bayi yang sama dengan Dong-soo. Dia bergabung dengan perjalanan para pialang.
Kang Gil-woo sebagai Tuan Lim,
seorang pedagang yang secara ilegal memperdagangkan anak-anak.
Penampilan khusus
Lee Moo-saeng
Ryu Kyung-soo sebagai Shin Tae-ho
Song Sae-byeok sebagai Direktur Sekolah Kimdergarten
Kim Seon-young sebagai Istri Direktur Taman Kanak-Kanak
Lee Dong-hwi sebagai Song
Kim Sae-byuk sebagai istri Song
Park Hae-joon sebagai Yoon
Baek Hyun-jin sebagai Detektif Choi
Poster Film Broker
Trailer Film Broker
Review Film Broker
Kami kutip dari akun twitter WatchmenID @WatchmenIDMelalui Broker, Hirokazu Kore-eda kembali menyuguhkan sebuah sajian slow-burn melodrama tentang "keluarga", seperti yang berhasil dilakukannya melalui Shoplifters beberapa tahun lalu. Film terbarunya kali ini punya treatment yang sedikit berbeda.
Seperti yang kami coba singgung di awal, Broker adalah sebuah film dengan tempo yang terbilang cukup lambat.
Buat yang familiar dengan Kore-eda ini jelas hal yang biasa, tapi untuk yang baru pertama kali nonton filmnya beliau mungkin ini bisa jadi hal yang patut diperhatikan.
Kore-eda kembali menyinggung batas tipis antara BENAR dan SALAH dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal yang dianggap tabu seperti "membuang bayi" apakah sepenuhnya SALAH jika kita diberi kesempatan untuk melihat sudut pandang yang lebih luas? Itu yang coba disampaikan oleh Broker.
Broker tidak sesederhana film tentang orang tua yang menelantarkan anaknya seperti di trailernya.
Melalui sebuah "road movie", Kore-eda kembali mengajak penonton mengikuti kehidupan para "pelaku kejahatan" sambil disuguhi dengan berbagai macam perspektif yang membuka mata.
Buat siapapun yang hobi banget mempertanyakan keputusan orang lain untuk memiliki dan atau tidak memiliki anak... tonton lah Broker ini :)
Cara Kore-eda "memaksa" penonton filmnya untuk tidak mudah nge-judge keputusan orang lain tanpa terkesan menggurui tuh luar biasa banget!!
Masih gak habis pikir gimana Kore-eda mampu mengemas dialog-dialog sederhana menjadi sebuah bahan perenungan yang terasa begitu menohok.
Buat yang udah nonton filmnya pasti tau betapa luar biasa powerfull-nya scene matiin lampu kamar dan Gondola itu.. TRULY MASTERPIECE!
link sumber review akun twitter WatchmenID @WatchmenID
boxoffice.co.id - Meomories of The Sword dirilis pada 31 Agustus 2015, merupakan drama bergenre action, drama. Disutradarai oleh Park Heung Sik, sedangkan naskah ditulis oleh Park Heung Sik dan Choi A Reum. Film ini berdurasi 121 menit dan didistribusikan oleh Lotte Entertainment.
Pemain Memories of The Sword
Lee Byung Hoon berperan sebagai Deok Ki atau Yoo Baek
Jeon Do Yeon berperan sebagai Seol Rang atau Wol So
Kim Go Eun berperan sebagai Seol Hee atau Dong Yi
Lee Joon Ho berperan sebagai Yool
Lee Kyoung Young berperan sebagai guru
Poster Memories of The Sword
Sinopsis dan Review Memories of The Sword
Memories of The Sword merupakan film bertema sejarah pada masa Dinasti Georyo. Mengisahkan tentang 3 orang pejuang yang berusaha menyuarakan aspirasi rakyat kecil dan meminta keadilan dari penguasa yang tidak memimpin dengan baik. Dalam peperangan, mereka berhasil menawan sang pimpinan perang yang merupakan anak sang Raja. Poo Chun, Deok Ki, dan Seul Rang, karena kehebatan mereka yang terkenal di seluruh negeri, pedang milik mereka juga disebut sebagai 3 pedang terbaik.
Hari itu saat mereka menghadap raja untuk bersepakat, Deok Ki yang terbawa akan keserakahannya berakhir menghianati teman dan rakyat. Pada hari itu pun Poo Chun, sang istri, dan anaknya Dong Yi tewas ditangan Deok Ki. Deok Ki meminta Seul Rang untuk tetap berada disisinya, namun Seul Rang memutuskan untuk pergi membawa pedang Poo Chun dan Dong Yi. Ia meminta sang guru untuk menyembuhkan Dong Yi, namun apa daya karna bayi itu telah tewas.
Seul Rang yang merasa bersalah pada Poo Chun rela kehilangan penglihatannya, mengganti namanya menjadi Wol So dan membesarkan anaknya Seol Hee dengan mengatakan bahwa ia adalah Dong Yi, anak dari Poo Chun yang telah dibunuh oleh Deok Ki dan Seol Rang. Dengan dendam atas kematian orang tuanya, anak perempuan itu tumbuh dengan melatih kemampuan bertarungnya.
Hingga suatu hari ketika ia merasa kemapuannya telah cukup, ia muncul di area bertarung dan melawan seorang pemuda yang telah dikenal pandai bertarung, Yool. Deok Ki yang merubah namanya menjadi Yoo Baek, merupakan salah seorang perdana menteri dan menyaksikan pertarungan tersebut.
Ia teringat dengan perkataan Seul Rang bahwa Dong Yi pasti akan muncul untuk membunuh mereka berdua. Yoo Baek langsung menyuruh penjaga menangkap Dong Yi, namun ia berhasil kabur. Yoo Baek menemui Dong Yi dalam perjalanan pulang untuk memastikan identitasnya.
Hari itu Wol So akhirnya memberitahukan identitasnya kepada Dong Yi bahwa ia adalah Seul Rang dan laki-laki yang telah ia temui adalah Deok Ki. Wol So memberikan pedang Poo Chun kepada Dong Yi dan menyuruhnya pergi. Dong Yi yang mengetahui fakta ini tak habis pikir karena wanita yang ia anggap ibu adalah orang yang selama ini ia cari.
Dong Yi kembali bertemu dengan Yool dan mereka menjadi bersimpati satu sama lain. Yoo Baek memerintahkan prajuritnya untuk membawa Gam Cho dan Seul Rang. Namun dalam penangkapan ini Gam Cho tewas dan Seul Rang berhasil kabur dan manemui sang Guru. Tapi sang guru tak mau membantu.
Dong Yi kembali ke rumahnya untuk menemui Seul Rang namun yang ia lihat hanya kekacauan di rumahnya, serta fakta bahwa Gam Cho telah meninggal, ia merasa bersalah karena sebelumnya telah menyebut nama Gam Cho sebagai namanya.
Dong Yi pun bergegas ke kekerajaan untuk mencari Yoo Baek, namun dalam pertemuan itu Yoo Baek mendapati bekas luka di punggung Dong Yi bukanlah luka dari pedang miliknya, melainkan pedang Seul Rang.
Dan ia dengan tega menusukkan pedangnya ke Dong Yi serta membuangnya ke danau. Beruntungnya Yool yang telah menjadi pengawal menyelamatkan Dong Yi dan melawan para prajurit, disaat itu Seul Rang muncul dan membawa Dong Yi ke sang Guru.
Seul Rang kembali untuk menemui Yoo Baek, ia tak memberitahukan kebenaran bahwa Dong Yi adalah anak mereka, namun mengingatkan bahwa satu-satunya cara untuk menebus dosa mereka adalah dengan mati ditangan Dong Yi. Yoo Baek yang berambisi menjadi raja tak mengindahkan perkataan Seul Rang karena bahkan ia tak pernah merasa bersalah.
Disisi lain Dong Yi yang telah pulih mulai belajar ilmu bertarung dan menggunakan pedang dari sang Guru. Ia pun mulai mengetahui bahwa Dong Yi sebenarnya telah tewas, dan ia adalah Seol Hee, anak Seul Rang. Meski mengetahui fakta ini, ia tetap pergi ke kerajaan dan menemui Yoo Baek.
Malam itu setelah pernikahan Yoo Baek dan putri raja, menjadi malam pertumpahan darah diantara mereka. Seul Rang yang mencoba menghentikan pedang Yoo Baek pun terlibat, akhirnya pedang Poo Chun menembus tubuh Yoo Baek dan Seul Rang. Sementara Seol Hee menangis tersedu melihat orang tuanya terbunuh dengan tangannya sendiri.
boxoffice.co.id - Tanpa sengaja saat pindah-pindah channel tv, kemarin 3 agustus 2020 saya menemukan stasiun trans 7 sedang menayangkan film korea berjudul Monstrum. Sudah rilis sejak 12 September 2018 dengan durasi 105 menit.
Film besutan sutradara Heo Jong-ho berhasil meraih pendapatan kotor US$5,5 juta. Ada dua hal yang membuat saya tertarik menonton film ini, pertama tema monster dan perpaduan dengan jaman kerajaan serta ada aktor favorit yotu Choi Woo-shik yang juga bermain dalam film Parasite dan Time to Hunt.
Jajaran Pemain
Monstrum dibintangi oleh Kim Myung-min, Park Hee-soon, Lee Kyoung-young, Kim In-kwon, Hyeri, Lee Kyu-bok, Choi Woo-sik, Hong Ji-yoon. Woo-sik Choi yang pernah bermain di film Train to Busan dan Okja. Masih ada nama In-kwon Kim, Myung-Min Kim dan tentu saja wanita cantik Hyeri Lee yang merupakan anggota dari kelompok musik Girl’s Day.
Sinopsis
Monstrum mengisahkan tentang wabah yang terjadi di masa Joseon dan menimbulkan ketakutan yang merajalela di seantero negeri.
Di tengah itu, rumor kemunculan binatang buas mengerikan atau disebut Monstrum di Gunung Inwangsan mulai menyebar. Rasa takut pun berubah menjadi kepanikan.
Raja Jungjong (diperankan Park Hee-soon) kemudian memanggil orang kepercayaannya, Jenderal Yoon Gyeom (Kim Myung-min) untuk keluar dari masa pensiun dan membantunya mengatasi masalah yang terjadi.
Yoon Gyeom lantas pergi mencari makhluk mengerikan tersebut bersama putrinya, Myung (Hyeri), serta tangan kanannya, Sung Han (Kim In-kwon) dan Heo (Choi Woo-sik).
Review
Saya sendiri masih belum menemukan literasi sejarah walau film Monstrum ini menempatkan embel-embel diangkat dari sejarah nyata. Tapi tidak menguarngi daya tarik filmnya.
Sepanjang film kita akan disajikan Thriller yang menarik, teror dari seekor monster yang mirip singa namun juga kadang mirip gorilla. Menjelang akhir kita akan diberi fakta bahwa makhluk yang meneror rakyat dan menyebarkan wabah bisul ini dahulu adalah hasil persilangan makhluk buas dan unik yang berbeda, sayang tidak disebutkan hewan apa yang dimaksud.
Plot twist disajikan menarik, kenapa sang protagonis akhirnya bisa selamat. Point yang perlu diacungi jempol berikutnya adalah kualitas CGI Monster yang halus sehingga beliveable.
Selain fokus pada cerita melawan makhluk aneh, Monstrum juga dibumbui kisah konspirasi perebutan kekuasaan dan kudeta kerajaan korea. Plot ini membuat jalan cerita semakin menarik tidak monoton menghadirkan thriller teror monster saja.
Rekomended untuk dinikmati sambil bersantai, semoga bermanfaat selamat menonton.
boxoffice.co.id – Sobat boxoffice kita punya kolom baru namanya Nonton Ulang, segmen yang membahas film-film lawas yang ditonton ulang dan kita ulas dari sudut pandang kekinian. Pada episode pertama ini film yang akan kita tonotn ulang adalah film superhero yang cara penyajianya berbeda dengan kebanyakan super hero yang pernah ada seperti Marvel Cinematic Universe atau DC Universe. Judulnya Unbreakable naskah dan sutradara oleh M. Night Shyamalan rilis pada tanggal 22 November tahun 2000 sudah 10 tahun yang lalu dengan durasi 106 menit.
Pemeran Film Unbreakable
Bruce Willis sebagai David Dunn, mantan pemain american football yang menjadi penjaga keamanan yang dapat melihat visi kejahatan yang dilakukan oleh siapa pun yang disentuhnya dan memiliki kekuatan dan daya tahan manusia super tetapi lemah berada di air karena takut tenggelam.
Davis Duffield memerankan David yang berusia 20 tahun. Samuel L. Jackson sebagai Elijah Price / Mr. Glass, seorang ahli teori buku komik yang memiliki osteogenesis imperfecta Tipe I dan dinyatakan sebagai orang di belakang insiden kecelakaan kereta api.
Johnny Hiram Jamison memainkan Elijah yang berusia 13 tahun. Robin Wright Penn sebagai Audrey Dunn, istri David yang bekerja sebagai ahli terapi fisik. Laura Regan berperan sebagai Audrey yang berusia 20 tahun.
Spencer Memperlakukan Clark sebagai Joseph Dunn, putra David yang percaya bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan super. Charlayne Woodard sebagai Ny. Price, ibu Elijah.
Jalan Cerita
Biang kerok di film ini adalah Elijah Price / Mr. Glass, seorang ahli teori buku komik yang memiliki osteogenesis imperfecta Tipe I. Dia percaya kalau ada orang terlemah seperti dirinya pasti ada manusia terkuat di dunia, super hero ada di dunia nyata.
Untuk membuktikan keyakinannya ia menjadi dalang dari serangkaian kecelakaan yang terjadi di sana, mengorbankan ratusan orang tidak bersalah dalam insiden kecelakaan mobil, kereta dan pesawat.
Hingga ada satu orang yang dalam rangkaian ketiga kecelakaan tadi berhasil selamat tanpa cedera sedikitpun yaitu David Dun. David Dun sendiri tidak menydari kekuatan yang dimiliki dan tidak percaya, hingga akhirnya ia mencoba membuktikan dengan menelusuri rimayat kesehatanya, ternyata selama hidup ia belum pernah sakit, mampu mengangkat puluhan barbel beban dan hampir saja melakukan percobaan penembakan sendiri.
Selain memiliki ability berupa kuat dan tidak terluka, David Dun juga bisa mengetahui kejahatan seseorang jika bersentuhan, semacam indera keenam. Kemampuan ini ia sadari tatkala berada dikerumunan dan saat menjalani pekerjaannya sebagai sekuriti.
Suatu hari ketika ia sudah yakin bahwa ia memang punya kekuatan super, david dun kembali mendatangi Elijah. Saat berjabat tangan ia tahu bahwa selama ini aktor intelektual dibalik serangkain kecelakaan yang ia alami adalah Elijah. David Dun memutuskan melaporkan ke pihak polisi dan Elijah di penjara di sel tahanan khusus orang gangguan jiwa.
Menurut saya, walau tidak penuh aksi baku hantam ala captain amerika atau superman Unbreakble sesuai genrenya superhero thriller sangat menarik ditonton. Kita disajikan superhero yang lebih manusiawi dan bisa diterima nalar. Plot cerita konspirasinya juga menarik sebagai Plot Twist. Unbreakable adalah bagian dari Eastrail 177 Trilogy yang dikemudian hari kita disajikan film Split yang rilis tahun 2016 dan Glass sebagai penutup pada tahun 2019 yang lalu. Selamat menonton, semoga bermanfaat. Sampai jumpa.
boxoffice.co.id - Film bergenre drama memang umumnya berjalan pelan namun menjanjikan dari sisi plot dan cerita, sering sekali label inspiratif menyertai jenis genre film ini. Jika pembaca suka dengan film Pursuit off Happiness tahun 2006 yang bintangi bapak-anak Will Smith dan Jaden Smith, saya prediksi bakal suka juga dengan film yang akan kita bahas kali ini, film asli Indonesia bergenre drama yang banyak orang tidak tahu tetapi menjanjikan dari sisi plot, cerita dan tentu saja inspiratif.
Judul filmya Tampan Tailor, dibintangi oleh Vino G Bastian, Jefan Nathanio Marsya Timothy dan Ringgo A Rahman. Dibangku sutradarai ada Guntur Soeharjanto dan diproduseri oleh Sudiad. Rilis pada tanggal 28 Maret 2013. Film produksi Maxima Pictures ini berhasil mengumpulkan 100.726 penonton, memang tidak banyak tetapi saya berani jamin tentang kualitas ceritanya.
Traier Film Tampan Tailor
Sinopsis Tampan Tailor
Film ini mengisahkan hidup Topan (Vino G. Bastian) dan anaknya Bintang (Jefan Nathanio). Topan yang seorang penjahit, baru saja kehilangan istrinya, kehilangan toko jahitnya dan nyaris kehilangan masa depan anaknya yang dikeluarkan dari sekolah karena tidak ada lagi biaya.
Tapi Topan tidak pernah kehilangan harapan. Dengan bantuan sepupunya, Darman (Ringgo Agus Rahman), Topan mulai menjajal segala pekerjaan untuk terus menyambung hidup. Mulai dari calo tiket kereta, kuli bangunan hingga pekerjaan yang berbahaya, stuntman.
Semangat Topan yang luar biasa ini, memikat hati Prita (Marsha Timothy), gadis penjaga kios di samping stasiun kereta. Dan, dengan bantuan Prita pula, akhirnya Topan dapat kembali bangkit dan mengembalikan semua mimpinya.
(Spoiler Alert)
Review Tampan Tailor
Saya sangat suka dengan kutipan dalam traier film ini "hidup selalu penuh kejutan, kadang kita di atas kadang kita di bawah, tapi tidak buatku bagiku setiap hari selalu sama tanpa kejutan"
Tampan, nama usaha jasa jahit berasal dari nama Tami dan Topan, istri tercinta yang baru saja wafat dan meninggalkan Bintang anaknya yang masih SD.
Alur cerita yang digambarkan sangat heartwarming, bagaimana Topan yang sangat menyayangi anaknya dan pekerja keras demi masa depan anaknya. Berbagai pekerjaan dilakoninya, dari kuli bangunan yang berat, gambaran real sektor pekerjaan tukang bangunan tersaji apik.
Lalu bagaimana ia mencoba menjado calo tiker kereta api dan kucing-kucingan dengan satpam. Adegan Topan dan Bintang tidur di gerbong mengingatkan saya pada adegan fium Pursuit off Happiness yang tidur di toilet stasiun. Bagaimana Vino pemeran Topan menahan tangis pilu atas nasib yang di alami juga membuat saya dejavi dengan akting Will Smith.
Romansa
Bumbu romantis tersaji penuh ke-uwu-an, pertemuan Topan dengan Prita yang terkesan jutek dan cuek tapi sebenarnya penuh kasih. Dalam film ia adalah membuka jasa penitipan anak selagi para orang tua bekerja di luar rumah. Hubungan yang awalnya bagai air dan api berubah jadi buah cinta.
Happy Ending
Tenang saja yang khawatir dengan endingnya, dengan embel-embel diangkat dari kisah nyata, film yang berdurasi 1 jam 40 menit 40 detik ini berakhir bahagia. Topan akhirnya diterima bekerja di sebuah tempat jahit jas ternama, dengan bekal pengalaman hasil kerjanya dipuji oleh bos dan pelangganya.
Namanya hidup, ada saja yang tidak suka dengan keberhasilanya, sang manager yang sirik berbuat curang hingga akhirnya Topan dipecat. Akhirnya ia membuka kembali jasa jahit miliknya sendiri Tampan Tailor dengan bantuan dari Prita.
Pesan moral yang bisa kita ambil dari film Tampan Tailor adalah tentang semangat pantang menyerah, mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, seperti kata pepatah bijak, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Juga tentang kasih sayang. Selamat menonyon semoga bermanfaat. Jangan lupa sedia tisu, untuk usap air mata.
boxoffice.co.id - Start Up merupakan film yang diadaptasi dari webcomic dengan judul yang sama yang telah dipublikasikan pada tahun 2014-2015. Webcomic ini ditulis oleh Jo Geum San, sedangkan naskah film sekaligus sutradara oleh Choi Jeong Yeol. Proses syuting dilakukan pada 8 Maret – 27 Juni 2019, dan film dirilis pada 18 Desember 2019.
Kim Jong Soo berperan sebagai pemilik restauran (Pak Hong)
Kim Kyung Duk berperan sebagai Bae Goo Man
Yoo Kyung Ho berperan sebagai Dong Hwa
Ko Du Shim berperan sebagai nenek Sang Pil
Sinopsis dan Review Film Korea Start Up
Start up mengisahkan tentang titik balik kehidupan Taek Il yang melarikan diri dari rumahnya karena ia tak ingin hidup seperti keinginan sang ibu. Taek Il bersahabat dengan Sang Pil, mereka merupakan remaja berumur 18 tahun yang hidup dalam keluarga sederhana. Taek Il tinggal bersama ibunya yang dahulu adalah pemain voli dan kini bekerja di sebuah restoran bersama saudaranya, ia berjuang untuk memunuhi kebutuhan hidup anaknya dan berharap Taek Il untuk melanjutkan sekolahnya hingga kuliah. Namun Taek Il menolak, hingga suatu hari ia memutuskan kabur dari rumahnya. Hubungan Taek Il dengan sang ibu memang bagaikan air dan minyak.
Dengan uang pas-pasan ia nekat pergi tanpa tujuan pasti, hingga sampai lah ia di Gunsan provinsi Jeolla Utara. Dalam keadaan yang tidak disengaja ia bertemu dengan Kyung Joo, seorang gadis tomboi yang bisa dibilang memiliki tempramen buruk dan jago bela diri, Taek Il pun berakhir dipukuli. Saat ia berusaha mengejar Kyung Joo, sampailah Tek Il di restauran Cina, dengan sisa uangnya ia memesan Jajangmyeon seharga 3.000 won.
Keesokan harinya Taek Il kembali ke tempat tersebut dan melihat adanya lowongan sebagai petugas pesan antar. Sang pemilik restoran awalnya menolak karena mengetahui kondisi Taek Il yang kabur dari rumah, namun akhirnya ia justru menerima karena khawatir melihat kondisinya. Taek Il bekerja bersama Goo Man dan Geo Seok sebagai sang koki yang masing-masing memiliki karakter unik. Geo Seok memiliki tubuh besar, rambut gondrong, dan terlihat menakutkan, namun selalu menyanyikan lagu Twice. Goo Man terlihat seperti pria pengecut dan ceroboh yang pelupa. Mereka tidur bersama di rumah sang pemilik restauran tersebut, namun Taek Il dan Geo Seok tak pernah akur, namun sebenarnya saling peduli, disinilah lucunya hubungan mereka.
Sementara Sang Pil mendapat tawaran pekerjaan dari kenalannya, Dong Hwa, yang ternyata bekerja pada seorang rentenir, yang mereka sebut Global Finance. Sang Pil merasa tak cocok dengan pekerjaannya, namun temannya terus meyakinkan, dan karena kondisi keuangan Sang Pil berusaha bertahan. Sang Pil hanya hidup berdua bersama sang nenek yang mengalami dimensia di usia tuanya. Hingga suatu hari ia harus menagih uang ke seorang pemilik toko yang terlihat seperti pecandu alkohol, Sang Pil terluka karena dipukuli. Merasa mendapat perlakuan yang tak adil, dengan penuh amarah keesokan harinya ia kembali ke tempat tersebut untuk balas dendam, disinilah ia mulai merasa pekerjaannya benar-benar tidak cocok dengannya.
Taek Il mendapat telpon dari Sang Pil yang mengabarkan kalau ibunya terlihat membicarakan hal serius dengan beberapa orang kenalan di pinggir jalan. Meski Taek Il bersikap tak acuh, namun setelah mendapat gaji pertamanya, ia pulang ke rumah. Ia meninggalkan gajinya untuk sang ibu. Ibunya mulai membuka toko roti bakar, bertemu dengan ibunya, perdebatan pun mulai terjadi, Taek Il kembali ke restauran Cina.
Kyung Joo tinggal bersama dua orang wanita yang sebelumnya ia temui di sauna, mereka menyewa tempat tinggal bersama. Suatu hari dua wanita tersebut berada di tempat tinggal mereka dengan membawa dua teman pria. Kyung Joo yang tak menyukainya menyuruh pria tersebut pergi, dengan beraninya ia mulai melawan pria itu, namun ia tak berdaya dan melarikan diri. Hingga sampailah ia di dekat restauran Cina, Taek Il masih kesal pada Kyung Joo mulai mengejarnya saat melihat ia berlari, dalam situasi rumit ini, Taek Il dan Goo Man justru menyelamatkan Kyung Joo.
Beberapa hari kemudian Kyung Joo kembali ke restauran Cina dan bekerja paruh waktu disana, sang pemilik restauran menyuruhnya tidur di kamar almarhum putrinya.
Pria tempo hari yang mengejar Kyung Joo kembali ke restautan dengan membawa beberapa teman, terjadilah kekacauan di restauran. Geo Seok yang dari awal hanya diam mencari aman, kali ini turun tangan ikut melawan mereka. Polisi datang, orang-orang tersebut akhirnya ditangkap karena kasus perdagangan seks, sedangkan polisi mengenali Geo Seok. Terungkaplah masa lalu Geo Seok. Dulu ia tak sengaja datang ke restauran setelah membunuh orang, Geo Seok menyelamatkan pemilik restauran yang mencoba bunuh diri setelah kematian putrinya.
Sang Pil dan Dong Hwa mendapat teguran dari bos mereka. Jika masih tidak dapat melakukannya ia diminta untuk belajar lagi.
Sekelompok orang mendatangi Geo Seok ke restauran Cina, mereka adalah orang-orang kenalannya di masa lalu yang meminta Geo Seok untuk kembali ke kelompok mereka. Karena tak ingin terjadi hal buruk dengan restauran, ia akhirnya memutuskan untuk pergi.
Sang Pil melihat tempelan di toko roti milik ibu Taek Il yang mengatakan kalau bangunan ilegal akan segera di robohkan. Toko ini termasuk bangunan ilegal. Sang Pil menghubungi Taek Il. Kondisi restauran yang kacau, membuat bos mengatakan untuk libur selama seminggu. Taek Il dan Kyung Joo pun menemui ibu Taek Il. Namun sekali lagi terjadi perdebatan diantara mereka.
Taek Il menelpon Geo Seok untuk meminta bantuan, namun Geo Seok sedang dalam urusannya mengatasi kelompok lain yang mengancam kelompoknya dulu.
Sang Pil kembali bekerja, kali ini ia pergi bersama sang bos dan temannya. Bos memutuskan untuk pergi ke tempat ibu Taek Il. Sang Pil yang mengetahui hal ini tak bisa melakukan apa-apa. Taek Il juga ada disana, terjadilah perkelahian yang tak dapat dihindari karena uang gaji pertama Taek Il yang diambil paksa.
Pertemuan Geo Seok berakhir dengan perkelahian namun ia menakuti orang-orang disana meski akhirnya ia tertusuk pisau. Geo Seok dijemput kenalannya, mereka berhenti di sebuah restauran dan Geo Seok memasak Jajangmyeon untuk makan malam mereka. Ia menyadari bahwa pekerjaannya sebagai koki yang paling cocok dengannya.
Toko pun dihancurkan. Taek Il dan ibunya juga harus segera pindah rumah karena rumah tersebut juga bangunan ilegal. Mereka pun sementara pindah ke rumah Sang Pil bersama sang nenek. Sembari menunggu pesanan ayam, mereka mengupas kacang bersama. Pesanan ayam datang, ternyata Dong Hwa telah berhenti bekerja dan membuka restauran ayam, dan merasa dirinya kini memiliki pekerjaan yang lebih cocok dengannya.
Geo Seok mengajari Goo Man menjadi koki. Restauran pun kembali buka. Kyung Joo kembali bersekolah dan tinggal disana. Adegan terkahir ditutup dengan Taek Il membawa sang ibu untuk pergi jalan-jalan dengan motornya. Hubungan mereka pun mulai membaik.
Film ini disutradarai oleh Choi Jeong-Yeol, skenario ditulis oleh Jo Geum-San (webcomic), Choi Jeong-Yeol. Tayang di korea pada 28 Desember 2019 dengan durasi 102 menit. Start Up menghabiskan biaya produksi ₩9 billion atau sekitar (US$7.3 million) dan berhasil mendulang pemasukan $22,715,614 box office.
Start Up Menghadirkan persahabatan dan perjuangan dari masing-masing tokohnya, secara akting tidak perlu diragukan lagi. Rekomeded untuk ditonton.
boxoffice.co.id - Makin ke sini, kualitas film korea selatan memang semakin meningkat dengan segala kearifan lokal mereka. Baru-baru ini saya menonton film korea dengan genre drama politik yang sangat menarik berjudul The Man Standing Next. Diangkat dari sebuah peristiwa nyata Pembunuhan Presiden Park Chung-hee Pada 26 Oktober 1979 oleh Kim Jae-kyu, Direktur kCIA (Badan Intelijen Korea Selatan).
Film ini rilis 22 januari 2020 di korea dan 26 Februari 2020 di Indonesia, disutradarai oleh Woo Min-ho, diangkat dari novel sejaran berjudul Namsanui Bujangdeul karya Kim Choong-sik, skenario film ini ditulis oleh Woo Min-ho dan Lee Ji-min.
Trailer The Man Standing Next
Dijajaran pemain nama-nama besar iku ambil bagian, diantaranya Lee Byung-Hun sebagai Kim Kyu-Pyeong (ketua badan intelijen korea), Lee Sung-Min sebagai Presiden Park Chung-hee, Kwak Do-Won sebagai Park Yong-Kak (mantan ketua badan intelijen korea dalam pelarian ke amerika), Lee Hee-Joon sebagai Kwak Sang-Cheon (ketua paspampres) dan Kim So-Jin sebagai Debra Shim.
The Man Standing Next berdurasi 114 menit berhasil merajai box office korea. diproduksi sejak 20 oktober 2018 hingga 28 februari 2019.
Review
Pada 26 Oktober 1979 terjadi sebuah tragedi dalam sejarah korea selatan, Presiden Park Chung-hee yang sudah berkuasa selama 18 tahun mati ditembak dalam sebuah acara makan malam yang juga dihadiri oleh ketua paspampres dan pejabat lain.
Film The Man Standing Next menceritaka 40 hari sebelum peristiwa tersebut terjadi. Dimulai dari pelarian mantan ketua badan intelijen korea (KCIA) Park Yong-Kak yang bersaksi di amerika serikat bahwa presiden park sudah tidak layak memimpin da cenderung otoriter.
Kim Kyu Pyeong diperankan oleh Lee Byung Hun yang menjabat ketua badan intelijen saat itu, mengusulkan agar masalah ini diselaikan dengan baik-baik, ia datang ke amerika untuk membujuk Park Yong Kak agar menyerahkan naskah memoir yang akan diterbitkan sebagai buku dan di koran serta meyarankan ia meminta maaf pada presiden agar diampuni dan bisa kembali ke korea.
Satu sisi, situasi dalam negeri mulai tidak kondusif, intrik politik dan masyarakat mengadakan demontrasi di beberapa wilayah. Kwak Sang Cheon ketua paspampres dengan sekutunya di militer setuju bahwa masalah harus diselaikan dengan pendekatan militer, bahkan pengerahan tank di jalanan untuk membubarka masa, namun ditentang oleh Kim Kyu Pyeong.
Scene ala intelijen saling sadap diperlihatkan sangat epik, walau secara aksi tidak seinten franchise jason bourne tetapi bagi penyuka film bergenre drama inteligen dan politik pasti penasaran dengan alur yang disajikan walau kita sudah tahu endingnya karena ini film diangkat dari sejarah.
Secara keseluruhan film ini menurut saya mengambil sudut pandang dari Kim Kyu Pyeong, ia merasa sang presiden yang selama ini didukung dan diperjuangkan sejak masa revolusi telah melenceng dari tujuan awal revolusi. Tidak lagi mementingkan rakyat, cenderung diktator, dan enggan mundur.
Ia yang jengah dengan perilaku presiden dengan segala kebijakannya, akhirnya memilih agar terjadi sukses di korea selatan, cara yang diambil sangat ekstrim yaitu dengan menembak sang presiden dan beberapa pengikutnya termasuk ketua paspampres yang dalam film digambarkan sangat militeristik dan diktator.
Tergambar jelas juga, karakter presiden yang memang tidak konsisten, setidaknya ditampilkan dalam film sebanyak 2 kali, bagaiman ia memberi angin segar ke ketua intelijen sebelumnya agar melakukan "tindakan yang diperlukan" untuk mengatasi sebuah masalah, ia berjanji akan mendukung tindakan itu, namun ketika efek negatif secara politik terjadi presiden dengan mudah menyingkirkan ketua intelijen tersebut, terjadi 2 kali.
Kim Kyu Pyeong dihukum mati yang ditetapkan dalam pengadilan militer, 47 hari setelah pembunuhan presiden militer kembali melakukan kudeta untuk mengambil alih kendali pemerintahan. Diakhir film kita akan ditunjukan rekaman sejarah peristiwa ini, Versi militer, motif pembunuhan presiden yang dilakukan Kim Kyu Pyeong adalah karena kecemburuannya karena presiden lebih memilih ketua paspampres dan ambisinya untuk jadi presiden, namun kalau kita flashback sepanjang film justru jalan cerita menampilkan sebaliknya. Menarik sih ini, melalui film si pembuat bisa menuangkan prespektif dan bisa jadi mengungkap kebenaran sebuah sejarah.
"aku ingin menyatakan tujuan revolusiku tanggal 26 oktober, semata-mata untuk memulihkan demokrasi liberal. serta menghentikan negara ini dalam mengorbankan lebih banyak lagi warga negaranya. aku berevoluasi bukan karena menjadi presiden. aku sorang prajurit, oleh karena itu kedepannya aku membuat pernyataan terkahir ini bukan untuk mengemis supaya nyawaku diampuni. karena itu, mohon hakim ketua ikuti apa yang anda yakini. berikan padaku hukuman yang sepantasnya" pernyataan Kim Kyu Pyeong dalam sidang militer.
Film tentang pembunuhan presiden ini mengingatkan saya pada film serupa dari hollywood semacam Lincoln film biografi presiden amerika ke 16 tahun 2012 yang juga berakhir tragis dengan penembakan, serta film JFK sebuah film thriller hukum-konspirasi sejarah Amerika 1991 yang disutradarai oleh Oliver Stone. Film tersebut meneliti peristiwa-perisitwa yang membuat terjadinya pembunuhan Presiden John F. Kennedy dan kemudian menyoroti kesaksian mantan jaksa agung distrik New Orleans Jim Garrison.
Secara keseluruhan sangat rekomended untuk ditonton, apalagi bagi sobat yang suka film bergendre intelijen, drama dan politik. Indonesia sebenarnya tidak kalah banyak kisah-kisah untold story berbau intelijen dalam peralihan sejarah kita, lengsernya Presiden Soekarna, Lengsernya presiden Soeharto misalnya, andai bisa dibuat film sejarah seperti ini pasti akan sangat menarik, hanya saj sayang film-film dengan unsur politik masih sangat sensitif di indonesia. Selamat menonton.
boxoffice.co.id – Membaca kisah sejarah perjuangan sebuah negara selalu menarik dan banyak pelajaran yang bisa diambil, paling tidak tentang semangat patriotisme. Apalagi jika lembaran sejarah itu disajikan dalam bentuk sinematografi. Terlepas dari sudut pandang benar dan salah, dan dramatisasi kita jadi bisa belajar tentang sejarah sebuah negara dengan cara yang asyik.
Genre film perang atau War Movie seperti Saving Private Ryan tayang tahun 1998 besutan Steven Spielberg, Pearl Harbor tahun 2001 yang disutradari oleh Michael Bay, film Dunkirk tahun 2017 yang disutradarai Christopher Nolan, dan yang terbaru 1917 yang rilis tahun 2019 karya Sam Mendes.
Kali ini kita akan review salah satu film perang juga yang diangkat dari sejarah perjuangan rakyat Korea Selatan semasa masa pendudukan jepang tahun 1920. Judul filmnya The Battle: Roar to Victory versi Hangul: 봉오동 전투; Hanja: 鳳梧洞戰鬪(凤梧洞战斗)rilis 7 Agustus 2019 berurasi 134 menit, emngambil setting Pertempuran Fengwudong atau Pertempuran Bongo-dong.
Pemeran
Sederet aktor ternama ikut ambil bagian dalam film yang disutradarai oleh Won Shin-yun, sebut saja Yoo Hae-jin yang kita kenal dalam film A Taxi Driver dan Woochi berperan sebagai Hwang Hae-cheol pemimpin gerilyawan korea.
Jo Woo-jin yang kita kenal di drama Pegasus Market dan Sky Castel di film ini ia berperan sebagai Byeong-gu, penembak jitu dalam pasukan gerilyawan yang dipimpin Hwang Hae Cheol.
Ryu Jun-yeol wajahnya familiar sebagai salah satu aktor dalam drama korea Replay 1988, kali ini ia berperan sebagai Jang-ha, seorang kapten pasukan perjuangan korea.
Kazuki Kitamura orang indonesia pasti pernah lihat aktor satu ini dalam film Killers tahun 2014 kolaborasi Indonesia-Jepang yang disutradari oleh The Mo Brothers. Dalam film The Battle: Roar to Victory ia berperan sebagai Letnan satu Jepang.
Hiroyuki Ikeuchi sebagai Jenderal Jepang, penggemar film donnie yen pasti tidak asing karena Hitoyuki Ikeuchi menjadi musuh Ip Man pertama. Dan Go Min-si sebagai Narator.
Jalan Cerita
Pada tahun 1920, saat Korea berada di bawah kekuasaan Jepang, pasukan berpedang Korea merdeka Hwang Hae-cheol (Yoo Hae-jin) dan bawahannya seorang penembak jitu Byeong-gu (Jo Woo-jin) melakukan operasi untuk memberikan dana kepada Pemerintah Sementara Korea di Shanghai.
Selama operasi, Hwang Hae-chul bertemu kembali dengan Jang-ha (Ryu Jun-yeol), seorang komandan pasukan muda yang memiliki misi bunuh diri untuk memancing pasukan Jepang yang dipimpin oleh seorang jenderal (Hiroyuki Ikeuchi) dan letnan satu (Kazuki Kitamura) menuju ke Bongo-dong.
Review
Adegan dibuka dengan masa muda Hwang Hae-cheol, adiknya menjadi korban sebuah granat pasukan jepang. Sejak saat itu ia mendidikasikan hidupnya berjuang dengan sekelompok kecil gerilyawan korea melawan pasukan jepang.
Yang menarik dari film bagaimana event dalam sebuah penggalan sejarah dapat disajikan dengan sangat baik. Pesannya tersampaikan tentang nasionalisme, memperjuangkan kemerdekaan dan semangat dalam perjuangan. Secara capaian box office juga bagus dengan meraih 3 juta penonton.
Sisi sinematografi sudah tidak diragukan lagi, celah pertarungan dan adegan laga juga berhasil disajikan dalam sangat baik. Isi yang kadang “cringe” dalam beberapa film, karena memang memvisualisasikan adegan pertempuran, desing peluru, ledakan meriam bukanlah hal yang mudah. Jika gagal maka akan terlihat amatiran, tapi karena ini film korea hal tersebut bisa kita hindari tersaji dalam film.
Surprise ada aktris favorit saya yaitu Choi Yu-hwa, sejak penampilan di drama korea Life 2018 jadi penasaran saja dengan akting-aktingnya, sayangnya penampilannya dalam film The Battle: Roar to Victory minim sekali dialog, ia berperan sebagai salah satu gerilyawan wanita. Rekomended buat tontonan saat libur lebaran, selamat menonton guys.